
Ditulis oleh dr. Ferdy Arif F. | Ditinjau oleh dr. Rio Adhi Wicaksono
istimewa
Pertanyaan seputar hubungan antara sunat dan fungsi reproduksi pria masih sering muncul. Banyak pria, orang tua, bahkan pasangan, mengkhawatirkan apakah tindakan sunat akan berdampak negatif pada kesuburan maupun kemampuan reproduktif di masa depan.
Kekhawatiran ini sering menimbulkan keraguan untuk melakukan tindakan sunat, khususnya pada bayi dan anak. Sebagian orang tua menunda prosedur hanya karena terpengaruh oleh opini yang tidak berdasar. Padahal, keraguan tanpa landasan medis dapat menyebabkan keterlambatan tindakan, yang justru bisa meningkatkan risiko komplikasi medis, infeksi, atau kondisi patologis seperti fimosis dan parafimosis.
Artikel ini akan menguraikan penjelasan ilmiah berdasarkan literatur medis mengenai kaitan antara sunat dan fungsi reproduksi pria, menjelaskan mitos yang berkembang, serta memberikan panduan yang relevan untuk tenaga kesehatan dalam menjawab kekhawatiran pasien.
Indikasi medis meliputi:
Fimosis (kulup tidak dapat ditarik ke belakang)
Parafimosis (kulup terjebak dan menyebabkan sumbatan)
Infeksi berulang (balanitis, balanopostitis)
Pencegahan penyakit menular seksual tertentu
Beberapa pasien meyakini bahwa pengangkatan kulup dapat mengurangi fungsi ereksi. Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara sunat dengan penurunan fungsi ereksi. Ereksi merupakan proses neurovaskular yang tidak dipengaruhi oleh keberadaan atau ketiadaan preputium.
Kesuburan pria ditentukan oleh kualitas sperma, produksi hormon testosteron, serta integritas organ reproduksi internal seperti testis, epididimis, vas deferens, dan prostat. Sunat hanya berhubungan dengan kulit preputium, sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap produksi sperma maupun hormon.
Studi mengenai sensitivitas penis pasca sunat masih beragam, namun mayoritas literatur menyatakan bahwa sunat tidak menurunkan kemampuan pria dalam melakukan hubungan seksual atau bereproduksi.
Organ reproduksi pria meliputi testis, epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, prostat, dan penis. Produksi sperma terjadi di testis, sementara ejakulasi dipengaruhi oleh koordinasi saraf dan otot. Preputium tidak berperan dalam produksi maupun transportasi sperma.
WHO (World Health Organization) menegaskan bahwa sunat tidak mengganggu fungsi reproduksi pria.
American Urological Association (AUA) menyatakan tidak ada bukti klinis yang mendukung klaim bahwa sunat memengaruhi kesuburan.
Meta-analisis berbagai studi klinis menunjukkan fungsi seksual pria, termasuk kepuasan seksual dan kemampuan reproduksi, tetap normal setelah sunat.
Menurunkan risiko infeksi saluran kemih, yang jika berulang dapat berimplikasi pada kesehatan reproduksi.
Mengurangi risiko penyakit menular seksual, termasuk HIV dan HPV, yang dapat berdampak pada infertilitas sekunder.
Meningkatkan kebersihan genital, mengurangi risiko balanitis yang berulang.
Sunat pada bayi tidak memengaruhi fungsi reproduksi, bahkan memberikan manfaat pencegahan sejak dini terhadap infeksi.
Pada anak usia pra-remaja, sunat membantu mencegah terjadinya fimosis patologis yang dapat mengganggu fungsi seksual di kemudian hari.
Meski prosedur lebih kompleks, sunat pada pria dewasa tetap tidak mengganggu kemampuan reproduksi. Yang diperlukan hanya periode penyembuhan sebelum aktivitas seksual kembali normal.
Dokter berperan penting dalam meluruskan mitos dengan penjelasan medis berbasis bukti. Edukasi yang baik akan membantu pasien dan keluarga mengambil keputusan rasional.
Selain data medis, pendekatan empatik dibutuhkan. Pasien yang khawatir sering lebih membutuhkan kepastian emosional daripada sekadar data ilmiah.
Berdasarkan literatur ilmiah dan konsensus urologi internasional, dapat disimpulkan:
Sunat tidak memengaruhi fungsi ereksi, ejakulasi, maupun produksi sperma.
Sunat tidak mengurangi kesuburan pria.
Justru, sunat memberikan manfaat kesehatan yang dapat mendukung kualitas reproduksi, seperti menurunkan risiko infeksi dan penyakit menular seksual.